Minggu, 03 Januari 2010

Seberapa besar pengaruh krisis global dalam perekonomian Indonesia

PENGARUH KRISIS MONETER AMERIKA SERIKAT

A. KRISIS MONETER DI AMERIKA SERIKAT

Sebelum membahas lebih jauh, mari kita simak pendapat Fauzi Ichsan, Senior Vice President Standard Chartered Bank, yang menceritakan dengan cukup detail tentang krisis moneter yang pernah terjadi. “Lama saya mengira bahwa krisis ekonomi terparah yang pernah saya alami adalah krisis moneter (krismon) Asia pada tahun 1997/1999. Ternyata dampak krismon Asia kalah jauh dibandingkan dengan krisis finansial yang melanda dunia sekarang. Sewaktu krismon Asia, setidaknya ada ’surga aman’ atau ’safe heaven’ bagi para investor global, yaitu di Amerika Serikat, Eropa dan Jepang. Investor bisa menjual saham dan surat utangnya di Indonesia, Thailand dan Korea (walau rugi) yang mengalami krisis, dan membeli saham di bursa New York dan London. Sekarang, negara safe heaven pun mengalami krisis ekonomi yang parah. Investor kesulitan mencari safe heaven untuk memarkir dananya dan, karena pasar saham, surat utang dan komoditas semuanya anjlok, cash is king again“.

Seberapa parah krisis finansial dunia ini?

Patokan ada. Lehman Brothers, Bear Stearns, Merrill Lynch, AIG, Freddie Mac dan Fannie Mae, sebagai lembaga finansial raksasa AS, selamat menghadapi resesi ekonomi AS paska serangan teroris tahun 2001. Mereka selamat manghadapi resesi ekonomi dunia akibat embargo minyak OPEC tahun 1973 dan selamat menghadapi dua perang dunia. Mereka juga selamat menghadapi resesi ekonomi dunia tahun 1930-an yang sering disebut “the great depression”, akibat krisis keuangan AS pada 1929.

Namun, mereka tidak selamat menghadapi krisis kredit pembelian rumah (KPR) subprime di AS pada 2007/2008. Artinya, terpuruknya beberapa lembaga keuangan terbesar di dunia tersebut adalah indikasi bahwa permasalahan ekonomi AS dan dunia sekarang memang jauh lebih parah dari perkiraan kita sebelumnya.

Dari uraian di atas, kita tahu bahwa krisis moneter di Amerika Serikat akhir-akhir ini telah mewabah ke berbagai benua dan dipastikan lebih parah dari krisis yang sudah pernah terjadi.

B. DAMPAK SECARA GLOBAL

Krisis moneter di Amerika Serikat kali ini menumbulkan dampak luar biasa secara global. Hal ini bisa dilihat dari kepanikan investor dunia dalam usaha mereka menyelamatkan uang mereka di pasar saham. Mereka ramai-ramai menjual saham sehingga bursa saham terjun bebas. Sejak awal 2008, bursa saham China anjlok 57%, India 52%, Indonesia 41% (sebelum kegiatannya dihentikan untuk sementara), dan zona Eropa 37%. Sementara pasar surat utang terpuruk, mata uang negara berkembang melemah dan harga komoditas anjlok, apalagi setelah para spekulator komoditas minyak menilai bahwa resesi ekonomi akan mengurangi konsumsi energi dunia.

Di AS, setelah melihat bursa saham Wall Street terus melorot, akhirnya kongres menyetujui program penyelamatan sektor keuangan (troubled asset recovery program - TARP) senilai US$ 700 miliar yang diajukan oleh pemerintah. Namun, karena lamanya negosiasi politik antara pemerintah dan kongres, investor kecewa melihat politikus di Washington tidak memiliki sense of crisis.

Krisis pasar modal (saham dan surat utang) global pada dasarnya hanya memengaruhi investor pasar modal. Tetapi krisis perbankan global bisa mempengaruhi sektor riil ekonomi dunia, termasuk Indonesia. Inti cerita yang terjadi adalah sektor perbankan AS sedang terpuruk, kekurangan modal, dan enggan meminjamkan dolarnya, termasuk ke bank-bank internasional di Eropa dan Asia.

Akibatnya, perbankan internasional kekurangan dolar untuk memberi pinjaman ke para pengusaha dunia yang membutuhkan dolar untuk investasinya (untuk impor mesin, bahan baku, dan sebagainya), termasuk di Indonesia.

Kita sudah tahu bahwa dolar AS merupakan mata uang inti dalam dunia usaha. Akibatnya, walaupun suku bunga bank sentral AS (atau Fed Funds Target Rate) sampai diturunkan ke 1,5%, suku bunga London Inter-Bank Offer Rate (LIBOR), sebagai patokan suku bunga yang digunakan oleh pelaku ekonomi, melonjak tajam.

Masalah rumit yang terjadi sekarang, macetnya sistem pembayaran dan penyaluran kredit global sebagai ‘oksigen untuk napasnya dunia bisnis’. Suku bunga bank sentral bisa rendah, tetapi suku bunga kredit untuk pelaku bisnis, kalaupun bisa dapat pinjaman, sangat tinggi karena perbankan ketakutan meminjamkan dananya. Menurut para ahli ekonomi, sebenarnya hal itu merupakan bahaya sektor perbankan global. Jadi, bukan anjloknya pasar saham, yang sebetulnya bisa melumpuhkan pertumbuhan ekonomi dunia secara perlahan.

Akhirnya, bank sentral dunia mengerti betapa pentingnya melakukan kebijakan yang terkoordinasi. Tujuh bank sentral (termasuk US Federal Reserve, European Central Bank, Bank of England dan Bank of Canada) akhirnya memangkas suku bunganya 0,5%. Ini merupakan yang pertama kalinya kebijakan suku bunga bank sentral dilakukan secara bersamaan dalam skala yang besar. Terjadi di tahun 2008 ini.

Hal lain yang dilakukan adalah kebijakan terkoordinasi bank sentral dan pemerintah dunia selebihnya harus ditujukan untuk memenuhi tiga sasaran. Pertama, memulihkan kembali sistem perbankan dan pembayaran global yang lumpuh agar sirkulasi dana internasional bisa normal kembali – dan bank bisa memberi kredit lagi.

Kedua, mengeluarkan aset bermasalah (terutama surat utang KPR subprime) dari perbankan AS dan memperbesar modal perbankan agar lebih bisa memberi kredit dalam jumlah yang bisa mendukung pertumbuhan ekonomi.

Ketiga, bank sentral dunia harus berani terus menurunkan suku bunga (untuk membantu meringankan bunga kredit) dan, yang lebih penting, pemerintah harus memperbesar belanjanya untuk pembangunan infrastruktur dan memberi stimulus ekonomi – karena investor swasta enggan berinvestasi dalam krisis likuiditas.

Kebijakan di atas bisa berhasil, bisa juga gagal. Hal tersebut beralasan karena kebijakan ekonomi berskala global belum pernah dilakukan dalam sejarah, tetapi risiko terjadinya resesi ekonomi dunia yang parah akan lebih besar kalau bank sentral dan pemerintah dunia tidak melakukan apa-apa.

Kalau berhasil, kapan hasilnya akan kelihatan? Paling cepat dua tahun. Artinya, resesi ekonomi AS dan Eropa akan lebih parah (sementara pertumbuhan ekonomi dunia melambat) pada 2009, sebelum pulih pada 2010. Kenapa? Karena titik terburuk ekonomi AS dan Eropa belum tercapai: misalnya, turunnya harga properti AS (pemicu krisis subprime) belum berakhir (jumlah rumah yang belum terjual masih terlalu banyak), pabrik masih melakukan PHK masal dan masih banyak bank yang harus bangkrut.

Selain itu, dampak stimulus kebijakan moneter dan fiskal memang makan waktu lebih dari satu tahun. Kalau ekonomi dunia baru pulih 2010, kapan pasar saham global pulih? Paling cepat semester 1, 2009, karena pasar saham biasanya menguat 6-9 bulan sebelum sektor riil ekonomi pulih.

C. DAMPAK DI INDONESIA

Dampak resesi ekonomi AS dan Eropa terhadap Indonesia tentunya negatif, tetapi karena net-ekspor (ekspor dikurangi impor) hanya menggerakkan sekitar 8% dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia, maka dampaknya relatif kecil dibandingkan dengan negara tetangga yang ketergantungan ekspornya ke AS besar, misalnya Hong Kong, Singapura, dan Malaysia.

Seperti pada tahun 2001/2002, atau terakhir kali AS mengalami resesi, ada tiga negara di Asia yang tidak terlalu terpukul ekonominya: China, India, dan Indonesia. Ketiga negara ini memiliki penduduk yang banyak sehingga belanja masyarakatnya merupakan motor penggerak ekonomi yang kuat. Untuk ekonomi Indonesia, dampak negatif kenaikan harga bahan bakar minyak sebesar 125% pada 2005 jelas lebih besar dari pada dampak resesi ekonomi AS.

Namun demikian, krisis finansial global dan lumpuhnya sistem perbankan global yang berlarut akan berdampak sangat negatif terhadap Indonesia, karena pembiayaan kegiatan investasi di Indonesia (baik oleh pengusaha dalam maupun luar negeri) akan terus menciut, penyerapan tenaga kerja melambat dan akibatnya daya beli masyarakat turun, yang akhirnya akan menurunkan pertumbuhan ekonomi.

Dari sini kita tahu bahwa dampak krisis moneter di Amerika Serikat terhadap perekonomian Indonesia tidak hanya pada melemahnya nilai tukar Rupiah, namun juga pada berbagai sector lain yang lebih rumit. Berikut akan dijelaskan dengan singkat.

Rupiah Melemah

Akibat krisis moneter di Amerika Serikat, nilai tukar rupiah melemah dan sempat menembus Rp 9.860 per USD. Di pasar antarbank, rupiah bahkan sempat menembus Rp 10.000 per USD. Pelemahan rupiah yang terjadi saat ini masih sejalan dengan beberapa mata uang lainnya.

Berbeda dengan krisis 1997, BI kini juga telah mengetahui pencatatan valas perbankan. BI juga tetap waspada dan terus menjaga agar tidak terjadi pergerakan gejolak yang terlalu besar. BI sebagai bank sentral meminta pasar tidak panik menghadapi situasi saat ini.

Turbulensi di pasar finansial saat ini terjadi di seluruh dunia. Bank sentral akan terus memantau perkembangan ekonomi global, dan berusaha agar dampaknya bisa seminimal mungkin.

Jatuhnya Bursa Saham

Dampak lain yang terjadi akibat krisis moneter di Amerika Serikat adalah jatuhnya bursa saham yang terjadi dalam pertengahan Oktober 2008. Meskipun para ahli ekonomi menilai kecil kemungkinan krisis ini menjelma menjadi krisis ekonomi berupa ambruknya perbankan dan sektor riil. Namun untuk meningkatkan kepercayaan pelaku pasar, pemerintah sebaiknya fokus menjaga daya beli masyarakat.

Pada hari Jumat tanggal 10 Oktober 2008, pemerintah membatalkan rencana pembukaan kembali perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang ditutup pada hari Rabu, 8 Oktober 2008. Hal ini dilakukan karena otoritas bursa ingin melindungi emiten. Emiten perlu dilindungi dari kemungkinan keterpurukan nilai harga saham akibat sentimen negatif pasar terhadap kondisi keuangan global yang sedang krisis.

Para ahli menilai tingkat krisis yang dihadapi Indonesia sangat berbeda dengan Amerika Serikat (AS), Eropa, dan negara maju lainnya. Di AS, krisis telah merasuk ke semua sektor, mulai dari pasar modal, perbankan, hingga sektor riil.

Namun, di Indonesia krisis hanya terjadi di pasar modal. Krisis yang terjadi di pasar modal dinilai tidak mudah bertransmisi ke sektor lain mengingat kontribusi pasar modal dalam sistem keuangan Indonesia amat kecil.

Wakil Presiden Jusuf Kalla juga memberikan pendapatnya di sebuah surat kabar bahwa sebenarnya ekonomi tidak terlalu terpengaruh dengan ambruknya bursa dunia, seperti Wall Street. ”Perbedaannya, kita banyak menggantungkan pada ekonomi domestik. Seperti di AS, pengaruh bursa itu sampai 1,5 kali dari produk domestik bruto mereka. Kalau kita pengaruhnya hanya 20 persen. Jadi, jangan terlalu dirisaukan,” kata Wakil Presiden dalam sebuah wawancara di media massa.

Penyesuaian yang terjadi di pasar modal dan nilai tukar domestik merupakan hal wajar karena seluruh dunia terkena imbas krisis keuangan AS. Penurunan ekonomi AS dan Eropa dinilai tidak perlu dikhawatirkan mengingat peran mereka dalam perdagangan dunia makin menyusut. Sebagai gantinya, kini muncul kekuatan ekonomi baru, seperti China, India, dan Rusia.

Krisis keuangan global yang terjadi saat ini merupakan koreksi atas kesenjangan (gap) yang terjadi antara pertumbuhan sektor riil dan sektor finansial. Koreksi berupa penurunan harga-harga di sektor finansial dan kenaikan harga-harga di sektor riil, seperti harga komoditas.

Hal tersebut memberikan gambaran kepada kita bahwa meskipun krisis moneter di Amerika Serikat telah memicu krisis ekonomi global, dan di Indonesia juga terkena dampaknya dengan melemahnya nilai Rupiah dan jatuhnya pasar saham, kita tidak perlu khawatir karena krisis tersebut tidak akan melumpuhkan perekonomian Indonesia seperti yang terjadi pada sepuluh tahun yang lalu.

Pengaruh Sidang APEC di Singapura

BERTEMU OBAMA: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saling berjabat tangan dengan Presiden Amerika Barack Obama saat mengadakan pertemuan disela KTT APEC di Singapura, Minggu (15/11). Obama mengungkapkan keinginannya untuk membawa serta istrinya Michelle Obama dan kedua anaknya Malia dan Natasha saat berkunjung ke Indonesia. (FOTO ANTARA/REUTERS/Jim Young)

Singapura (SIB)
Di sela-sela pertemuan KTT APEC di Singapura, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden AS Barack Obama. Pertemuan SBY dan Obama berlangsung sekitar 45 menit.
Dalam pertemuan yang berlangsung di Hotel Shangrila, tempat Obama menginap, Minggu (15/11), kedua pemimpin negara itu membahas berbagai hal. Sepeti peningkatan kerja sama dua negara secara komprehensif di bidang pendidikan, kesehatan, teknologi dan energi.
Pertemuan SBY-Obama yang sedianya dilakukan pukul 16.30 baru bisa dilangsungkan pukul 17.00 waktu Singapura, karena pertemuan antara pemimpinan negara ASEAN dan AS diperpanjang. Hal itu menyebabkan pertemuan bilateral SBY dan Perdana Menteri Vietnam Nguyen Tan Dung dibatalkan.
Hadir delegasi Indonesia mendampingi SBY Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Menteri Perindustrian MS Hidayat, dan Priyo Budi Santoso. Dari pihak AS hadir Menteri Luar Negeri Hillary Clinton.
INDONESIA-AS SEPAKAT PERBAHARUI KOMITMEN HUBUNGAN DWIPIHAK
Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat (AS) sepakat untuk memperbaharui komitmen dan meningkatkan hubungan kedua negara ke tahap yang lebih tinggi.
Hal itu dikemukakan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Hotel Shangri-La, Singapura, Minggu petang, seusai melakukan pertemuan dwipihak dengan Presiden AS Barack Obama .
“Kami memperbarui komitmen untuk meningkatkan hubungan ke tingkat yang lebih tinggi, mencapai kemitraan komprehensif,” kata Presiden.
Menurut Kepala Negara, selama ini kedua negara telah melakukan kerja sama di berbagai bidang, antara lain perdagangan, investasi, pendidikan, teknologi, perubahan iklim, sandang pangan dan energi, upaya mengatasi penyakit menular, terorisme serta hubungan antar masyarakat.
“Presiden Obama dan saya melakukan diskusi yang sangat baik tentang berbagai isu yang menjadi kepentingan bersama… Saya berterimakasih atas kesempatan kerja sama antara Indonesia dan AS,” ujarnya.
Lebih lanjut Presiden Yudhoyono menyebut Obama sebagai sahabat Indonesia yang mengenal Indonesia dengan baik.
Kepala Negara juga mengapresiasi pandangan-pandangan Obama yang segar dan baru terhadap berbagai isu internasional terutama jangkauan positif terhadap dunia Islam.
Di akhir pidatonya Presiden Yudhoyono berkata bahwa ia menanti kesempatan menyambut kedatangan Obama ke Indonesia tahun depan.
Seusai melakukan pertemuan dwipihak dengan Obama, Presiden kemudian menuju KBRI di Singapura untuk melakukan ramah tamah dengan masyarakat Indonesia.
Presiden beserta rombongan dijadwalkan mengakhiri kunjungannya di Singapura pada Senin (16/11) pagi.
OBAMA APRESIASI PENGARUH INDONESIA DI DUNIA INTERNASIONAL
Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama mengapresiasi pengaruh besar peran Indonesia di dunia internasional.
“Indonesia penting di kawasan Asia, sebagai anggota G20, sebagai negara demokrasi terbesar di dunia dan negara berpenduduk Islam terbesar di dunia, memiliki pengaruh besar sekali dan menjadi teladan seluruh pembangunan demokrasi dan hubungan antaragama,” katanya.
Oleh karena itu ia berharap Indonesia dan AS dapat terus menjaga hubungan baik yang telah terjalin lama.
Ia mengatakan bahwa dalam pertemuan dwipihak yang berlangsung lebih kurang 40 menit itu, kedua delegasi mendiskusikan berbagai macam hal, terutama untuk meningkatkan hubungan dwipihak.
“Kita bisa meningkatkan hubungan bilateral yang lebih baik dengan
kemitraan yang komprehensif yang akan menyangkut kesehatan, pendidikan, tenaga kerja, dan pemberantasan terorisme,” katanya.
Ia mengemukakan bahwa topik-topik itu akan mendapat perhatian pada bulan-bulan dan tahun-tahun mendatang.
“Kami juga mendiskusikan tantangan yang lebih luas untuk mendapatkan kesempatan dan kesepakatan dalam (pertemuan perubahan iklim) Copenhagen,” ujarnya.
Obama yang petang itu mengenakan setelan jas berwarna hitam dengan dasi yang senada juga mengemukakan komitmen AS dan Indonesia dalam menstabilkan perekonomian dan pertumbuhan dunia baik melalui perdagangan, investasi maupun pertumbuhan yang inklusif.
PRESIDEN OBAMA INGIN AJAK KELUARGA KE INDONESIA
Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama mengungkapkan keinginannya untuk membawa serta istrinya —Michelle Obama— dan kedua anaknya —Malia dan Natasha— saat berkunjung ke Indonesia.
“Saya akan berkunjung ke Indonesia tahun depan dan saya harap Michelle dan anak-anak saya bisa berkunjung ke tempat saya (tinggal) dulu,” kata Presiden Obama
Dalam pertemuan dwipihak itu kedua kepala pemerintahan saling melemparkan pujian satu sama lain.
Presiden Obama memuji kepemimpinan Presiden Yudhoyono serta Indonesia yang menjadi teladan dalam kehidupan demokrasi dan juga harmonisasi kehidupan umat beragama di Indonesia.
Ia juga menyebut mengenai hubungan baik antara Amerika Serikat dan Indonesia yang telah terjalin lama.
Sementara itu Presiden Yudhoyono mengatakan bahwa Presiden Obama mengenal Indonesia dengan baik dan dia mendapat penghormatan luas di Indonesia.
Presiden Yudhoyono juga mengucapkan terima kasih atas pandangan-pandangan baru Obama yang luas, terutama tentang umat Islam.
Dalam pertemuan tersebut masing-masing kepala pemerintahan didampingi oleh para menteri masing-masing. Kedua delegasi duduk berhadapan dengan jarak lebih kurang satu setengah meter tanpa terhalang meja.
Mulanya beredar kabar bahwa Presiden Obama dijadwalkan untuk melakukan lawatan ke Indonesia pada November 2009, sebelum atau sesudah mengikuti pertemuan puncak APEC, dalam rangkaian tur ke Asia-nya.
Namun pada Oktober lalu, Juru Bicara Kepresidenan Dino Patti Djalal menyebutkan bahwa Presiden Obama menunda kunjungannya ke Indonesia karena menginginkan suatu lawatan yang lebih emosional bukan sekedar suatu kunjungan yang terburu-buru.
Barack Obama yang menjadi presiden keturunan kulit hitam pertama AS pernah melewatkan masa kecilnya di Indonesia dan berayah tiri seorang WNI.
Oleh karena itu Obama memiliki banyak kenangan di Indonesia yang beberapa kali disebutnya dalam sejumlah kesempatan ingin kembali diulangnya, termasuk menikmati sejumlah makanan khas Indonesia.
YUDHOYONO-OBAMA BERDAMPINGAN DALAM SESI FOTO APEC
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berdiri berdampingan dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama dalam sesi foto bersama para pemimpin ekonomi negara-negara anggota Forum Kerja sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC).
Menurut laman resmi APEC Singapura 2009, Minggu dini hari, kedua kepala negara itu tampak mengenakan busana APEC 2009 —busana peranakan— berwarna sama yaitu biru tua.
Pada sesi foto itu Obama berdiri diapit oleh Presiden Yudhoyono dan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong.
Sesi foto bersama —yang merupakan tradisi APEC— itu dilakukan di salah satu simbol kebanggaan rakyat Singapura, Esplanade, Sabtu malam, seusai acara jamuan santap malam dan pertunjukan kebudayaan.
Sebelumnya Presiden Obama disebut-sebut akan melewatkan sesi jamuan santap malam itu karena terlambat tiba di Singapura untuk mengikuti rangkaian pertemuan puncak ke-17 APEC akibat insiden penembakan di pangkalan militer AS yang menewaskan sedikitnya 13 prajurit AS.
Oleh karena Presiden Obama mula-mula hanya akan mengikuti pertemuan informal sesi kedua APEC pada Minggu (15/11) maka pihak penyelenggara disebutkan akan memindahkan sesi foto resmi APEC pada Minggu dengan konsekuensi para pemimpin ekonomi APEC batal mengenakan busana khusus yang telah dipersiapkan oleh salah satu perancang ternama Singapura dan mengenakan pakaian resmi biasa yang berupa setelan jas.
Keputusan itu diambil karena dikhawatirkan tidak ada kesempatan bagi para kepala negara/pemerintahan itu untuk berganti pakaian mengingat padatnya jadwal acara.
Namun, dengan keputusan Presiden Obama untuk menghadiri jamuan santap malam maka para pemimpin ekonomi APEC tetap melakukan sesi foto bersama pada Sabtu malam dengan busana yang telah dipersiapkan oleh Singapura.
Wykidd Song —perancang busana yang telah berkiprah dalam dunia mode selama 16 tahun terakhir— telah mempersiapkan busana yang disebutnya sebagai busana peranakan Singapura untuk sesi foto tersebut.
Menurut Song, busana itu merupakan cerminan masyarakat Singapura yang multi budaya. Masyarakat Singapura terdiri dari keturunan China, India, dan Melayu.
“Hal pertama yang ingin saya tangkap adalah cerminan Singapura … saya juga mencoba menangkap kekhasan ‘Asia’ dalam desain itu. Saya melihat kebudayaan Peranakan sebagai campuran dari berbagai macam budaya di Asia Tenggara, seperti yang terdapat di Singapura,” kata Song dalam laman resmi APEC Singapura 2009.
Untuk busana pemimpin pemerintah/negara wanita —Presiden Filipina Gloria Macapagal Arroyo dan Presiden Chili Michelle Bachelet— Song menggunakan banyak detil dari bordir dalam desainnya sekalipun model busana tetap semi formal dengan bagian depan dipotong menyamping.
Ia juga menggunakan sutra dan warna-warna cerah bagi para pemimpin negara/pemerintahan agar selaras dengan cuaca Singapura.
Warna-warna yang digunakan dalam busana itu akan selaras dengan warna resmi logo APEC Singapura yaitu hijau, biru dan merah.
Para pemimpin negara laki-laki akan mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru, merah atau hijau dengan model leher tegak, sedangkan para pemimpin negara yang wanita mengenakan busana merah.
Busana itu juga dilengkapi dengan asesoris manset terbuat dari batu mulia, topaz biru, merah rhodolite atau hijau peridot. Sedangkan untuk wanita disediakan bros yang terbuat dari batu mulia merah rhodolite.
Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong bertindak selaku tuan rumah dalam jamuan santap malam itu. Ia menyambut setiap tamunya di pintu masuk Esplanade dan berfoto bersama. Tidak semua pemimpin ekonomi APEC didampingi pasangannya, namun sebagian besar pemimpin ekonomi APEC termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tampak hadir bersama Ibu Ani Yudhoyono.
Pengamanan Obama Tak Seketat Bush
Di mana Presiden AS berada, di situ pengamanan ketat diberlakukan. Demikian berlangsung di hotel Shangri La, Singapura, tempat Presiden AS Barack Obama menginap selama ikuti KTT APEC 2009.
Sebelum bisa mendekati ruang pertemuan bilateral antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan Presiden Obama, ada dua gerbang metal detektor harus dilalui. Tahap pemeriksaannya pun semakin ketat.
Gerbang pertama berada di lobby hotel. Prosedur deteksi di lobby hotel kurang lebih sama dengan di bandara. Begitu sensor berbunyi, seketika itu pula dua polisi Singapura menggeledah pakaian orang yang melewati metal detektor itu.
Gerbang dua terletak di mulut eskalator satu, lantai di atas ruang pertemuan berada. Prosedur pemeriksaannya jauh lebih teliti dan disupervisi langsung dari anggota Secret Service (Paspampres AS).
Berbagai barang bawaan yang dianggap berpotensi mendatangkan malapetaka langsung disita. Mulai pena, gunting, pemotong kuku, kunci, obeng kecil, pisau lipat dan semua yang bentuknya tajam berbahan logam langsung diminta untuk dititipkan.
Uniknya, tiap petugas dari American Embassy yang melintas di tiap gerbang deteksi juga harus jalani prosedur pemeriksaan sama.
Bila merujuk pengalaman dua kali meliput Presiden George W. Bush, prosedur pengamanan ketat yang dikenakan terhadap Presiden Obama ini terasa jauh lebih longgar. Tidak ada lagi pemeriksaan barang bawaan dengan anjing pelacak.
Sikap staf AS yang menjadi liaison officer terasa jauh lebih ramah. Mereka memberikan kesempatan adil antara wartawan AS, lokal dan dari negara yang kepala pemerintahannya sedang diterima Obama. (detikcom/Ant/c)

Sidang Apec di Singapura

Obama Hadiri Sidang APEC di Singapura Print E-mail

 Pertemuan para pemimpin Forum Kerja sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) kemarin (Sabtu 14/11) resmi dibuka di Singapura. Seperti dilansir AFP, pertemuan APEC kali ini dihadiri 21 negara penting dunia di antaranya AS, Rusia, Cina, Jepang dan sepuluh anggota ASEAN. Di sela-sela pertemuan tersebut Presiden AS, Barack Obama dijadwalkan melakukan pembicaraan dengan para pemimpin Asia.

Sementara itu, menurut laporan ANTARA, Para pemimpin ekonomi Forum Kerja sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) sepakat untuk mendorong penyelesaian perundingan Putaran Doha pada pertemuan informal (retreat) sesi pertama dari Pertemuan tingkat Pemimpin Ekonomi APEC (AELM). Pertemuan tersebut berlangsung di Istana, Singapura, Sabtu, yang bertema "Connecting the Region" (Menghubungkan Kawasan).

Menurut keterangan resmi dari Chen Hwai Liang, Sekretaris Media Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong, Sabtu malam, pada sesi pertama pertemuan informal itu para pemimpin ekonomi APEC menyepakati dorongan politik untuk menyelesaikan Putaran Doha pada akhir 2010.

Disebutkan bahwa ada keperluan mendesak ketika perundingan menuju tahap akhir, itikad politik kuat penting untuk mengatasi kebuntuan. Dalam upayanya untuk mempertahankan kawasan pasar bebas, para pemimpin APEC juga menekankan kembali komitmen mereka untuk menolak segala bentuk proteksionisme, kata pernyataan tertulis itu.

Dalam pertemuan informal yang berlangsung lebih kurang dua jam itu para pemimpin ekonomi APEC juga membahas sebuah visi jangka panjang dari Kawasan pasar Bebas Asia Pasifik (FTAAP). Ada konsensus di antara para pemimpin bahwa negara-negara APEC harus meningkatkan upayanya untuk mewujudkan visi itu, dengan meletakkan suatu dasar dan mengeksplorasi segala bentuk yang mungkin.

Terkait hal itu, menurut pernyataan itu, sejumlah pemimpin ekonomi menyoroti Perjanjian Kemitraan Ekonomi Strategis Trans-Pasifik (TPP) sebagai salah satu cara yang mungkin digunakan untuk mencapai visi itu. Mereka juga menyambut baik pengumuman Presiden Amerika Serikat Barack Obama bahwa AS akan terlibat dengan TPP. Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong pada kesempatan itu mengatakan bahwa langkah signifikan seperti TPP penting untuk membantu menjaga momentum dalam upaya APEC mewujudkan visi FTAAP.

Selaku pemimpin pertemuan itu, Perdana Menteri Lee Hsien Loong mengungkapkan bahwa sekalipun ada tanda-tanda pemulihan perekonomian pascakrisis namun perekonomian global masih dalam bahaya, dengan adanya pengangguran, lemahnya konsumsi dan tekanan proteksionisme.

Sejumlah pemimpin ekonomi yang lain pada kesempatan itu berbicara mengenai keperluan untuk menjembatani kesenjangan pembangunan antara negara-negara anggota APEC dan memperkuat upaya pembangunan kapasitas.

Beberapa diantaranya juga mengangkat isu perluasan agenda pembahasan APEC pada tantangan baru seperti ketahanan pangan. APEC merupakan forum yang terbentuk dan perkembangannya dipengaruhi antara lain oleh kondisi politik dan ekonomi dunia saat itu yang berubah secara cepat di Uni Soviet dan Eropa Timur.

Selain itu dipengaruhi kekhawatiran gagalnya perundingan Putaran Uruguay yang akan menimbulkan proteksionisme dengan munculnya kelompok regional serta timbulnya kecenderungan saling ketergantungan diantara negara-negara di kawasan Asia Pasifik. Forum yang dibentuk 1989 di Canbera-Australia itu telah melaksanakan langkah besar dalam menggalang kerja sama ekonomi sehingga menjadi suatu forum konsultasi, dialog.

Sebagai lembaga informal yang kerja sama ekonominya berpedoman melalui pendekatan keterbukaan bersama berdasarkan sukarela, melakukan inisiatif secara kolektif dan untuk mendukung keberhasilannya dilakukan konsultasi yang intensif terus menerus di antara 21 ekonomi anggota.

Indonesia mendukung peran penting APEC dalam meningkatkan kerja sama ekonomi di kawasan dan berperan aktif dalam pengembangan arah kerjasama APEC ke depan. Partisipasi Indonesia di APEC dilandaskan pada pentingnya mengantisipasi dan mengambil keuntungan dan mengamankan kepentingan nasional RI dari era perdagangan dan investasi yang semakin bebas di Asia Pasifik.

Sabtu, 12 Desember 2009

Seberapa besar pengaruh krisis global dalam perekonomian Indonesia

Dampak Krisis Keuangan Global Bagi Indonesia

Harga minyak dunia yang sempat menembus US$ 147 per barrel yang menyebabkan harga pangan melejit tinggi dan jatuhnya bank-bank raksasa di seluruh dunia menunjukkan terjadinya kebangkrutan kredit global yang pada gilirannya bisa mengarah kepada terjadinya resesi ekonomi. Agustus 2008 ini terulang kembali ledakan gelombang ekonomi di pasar perusmahan AS sebagai akibat dari subprime mortgage yang terjadi tahun lalu. Krisis ini terancam berakhir dengan depresi ekonomi yang mendunia. Depresi ini diperkirakan akan menghentikan pertumbuhan kesejahteraan dan lapangan kerja dalam perekonomian Barat selama kira-kira lebih dari satu dekade. Bangkrutnya Northern Rock di Inggris, Bear Sterns di Amerika serikat (AS), menyebabkan kian muramnya perekonomian dunia.

Bulan september 2008 adalah bulan dimana perusahaan-perusahaan terbesar di dunia ambruk. Tanggal 7 September, perusahaan prekreditan rumah Fannie Mae dan Freddie Mac , yang memberi garansi utang senilai 5,3 trilyun dolar, yang meliputi separuh lebih dari utang perkreditan rumah di AS, pun ambruk. Pemerintah AS akhirnya terpaksa menyelematkan dua perusahaan tersebut dengan menggelontorkan uang dari kas pajak warga negaranya sebesar 200 bilyun dolar. Dua perusahaan tersebut ambruk karena berani memberikan utang kepada orang-orang yang beresiko tinggi dalam masa-masa kejayaan ekonomi. Disusul kemudian beria yang menggemparkan dunia finansial adalah bangkrutnya salah satu Bank Investasi terbesar di pusat keuangan Wall Street di New York AS. Lehman Brothers, salah satu perusahaan investasi bank AS terbesar memasukkan permohonan status bangkrut pada tanggal 15 September 2008. Inilah akhir nasib suatu bank besar dan tertua yang berdiri di negara bagian Alabama tahun 1844 dan jatuh begitu saja– padahal di tahun 2007 Lehman masih melaporkan jumlah penjualan sebesar 57 bilyun dolar dan di bulan Maret lalu masih sempat dinyatakan oleh majalah Business Week sebagai salah satu dari 50 perusahaan papan atas di tahun 2008. Namun kini, Lehman bernilai tidak lebih dari cuma 2 bilyun dolar saja.

Perusahaan investasi lain seperti Merril Lynch, yang bertahun-tahun sempat menjadi raksasa Wall Street, pun mengemis untuk segera diambil alih oleh saingannya sendiri, yaitu Bank of America. Dan AIG, salah satu perusahaan asuransi terbesar juga memohon untuk disuntikkan dana darurat sebesar 40 bilyun dolar dari pemerintah AS untuk menghindari kebangkrutan total. Rentetan peristiwa ini dirangkum oleh majalah Wall Street Journal dengan kata-kata,” Sistem keuangan Amerika serikat terguncang hingga ke pusarnya”. Alan Greenspan, mantan kepala Bank Sentral AS, menyebut krisis keuangan dunia saat ini sebagai kejadian yang terjadi sekali dalam 100 tahun. Bangkrutnya lehman brothers tercatat sebagai kebangkrutan terbesar dalam sejarah korporasi AS. Perusahaan asuransi terbesar, AIG, juga di ambang ambruk.

Anatomi Krisis Keuangan Global

Krisis yang terjadi di Amerika serikat Serikat berakar pada besarnya gelembung kredit yang dikucurkan ke perumahan. Harga rumah di Amerika serikat, rata-rata turun hampir 5 persen. Banyak analis yang memprediksi bahwa harga akan turun lagi sebesar 10 persen, di mana hal tersebut akan menyebabkan penurunan harga rumah secara kumulatif dalam depresi ini. Bahkan di negara lain dampaknya bisa lebih buruk.

IMF memperhitungkan bahwa kerugian di seluruh dunia pada hutang yang berasal dari Amerika serikat (terutama yang berhubungan dengan mortgages) akan mencapai 1,4 triliun US dolar, perhitungan ini meningkat dari perkiraan awal yang mencapai 945 miliar US dolar pada bulan April 2008. Sejauh ini 760 miliar dolar telah dicatat oleh bank, perusahaan asuransi, hedge fund dan lainnya yang memiliki hutang tersebut.

Secara global, bank sendiri telah dilaporkan mencapai kerugian sebesar 600 miliar US dolar dalam bentuk kredit dan telah mengeluarkan 430 miliar US dolar dalam bentuk modal baru. Bank-bank di Amerika serikat dan di Eropa akan mencucurkan dananya sebesar 10 triliun US dolar dalam bentuk aset, yang ekuivalen dengan 14,5 persen dari stok kredit bank di tahun 2009.

Di Amerika serikat secara keseluruhan pertumbuhan kredit akan melambat di bawah 1 persen, turun dari rata-rata pertahun setelah masa perang yang mencapai 9 persen. Hal itu sendiri dapat menurunkan pertumbuhan perekonomian negara-negara barat sebesar 1,5 persen. Tanpa tindakan maju dari pemerintah yang akan mencucurkan dana sebesar 700 miliar US dolar, perhitungan IMF menunjukan bahwa kredit akan turun sebesar 7,3 persen di Amerika serikat, 6,3 persen di Inggris, dan 4,5 persen di seluruh eropa.

Sejumlah negara-negara kaya saat ini mengalami resesi, sebagian karena kredit yang ketat dan sebagian lagi karena melonjaknya harga minyak pada awal tahun ini. Pendapatan nasional di Inggris, Perancis, Jerman, dan Jepang turun. Dengan melihat cepatnya para pekerja yang kehilangan pekerjaannya dan lemahnya daya beli konsumen, perekonomian Amerika serikat juga mengalami kemunduran.

Sejarah mengajarkan pelajaran penting, bahwa krisis perbankan yang besar akhirnya diselesaikan dengan menggunakan sejumlah besar uang publik, dan kemudian tindakan pemerintah yang tegas, baik itu untuk merekapitalisasi bank atau mengambil alih kredit yang bermasalah, dapat meminimalkan biaya kepada pembayar pajak dan dampak krisis tersebut ke perekonomian. Contohnya, Swedia dengan cepat mengambil alih bank yang bermasalah setelah terjadinya kegagalan properti di awal tahun 1990-an dan pulih dengan cepat. Secara kontras, Jepang harus menempuh satu dekade untuk pulih dari krisis keuangan dengan biaya pembayar pajaknya yang ekuivalen dengan 24 persen GDP nya.

Pemerintah Amerika Serikat telah telah meletakkan 7 persen GDP nya pada garis batas, sejumlah uang yang sangat banyak sebesar 16 persen GDP dimana rata-rata krisis perbankan yang sistemik diselesaikan dengan biaya dari bantuan dana publik. Saat ini bagaimana Amerika serikat mengusulkan bekerjanya Troubled Asset Relief Programme (TARP) masih belum jelas. Departemen Keuangan Amerika Serikat berencana membeli sejumlah besar utang yang bermasalah dengan menggunakan mekanisme lelang, di mana bank menawarkan untuk menjual pada suatu harga tertentu dan pemerintah membeli dari harga terendah sampai tertingi. Kompleksitas dari ribuan hipotek yang dijamin dengan aset akan membuat hal ini menjadi sulit. Bila rekapitalisasi bank secara langsung masih dibutuhkan, Departemen Keuangan dapat melakukan hal itu juga. Hal yang utama adalah Amerika serikat harus bersiap-siap melakukan tindakan tegas.

Untuk sementara waktu, hal tersebut menawarkan alasan optimisme. Begitu juga dengan kekuatan dari emerging market terbesar, terutama China. Perekonomian negara ini tidak terpengaruh sebagaimana negara-negara lain terlihat berjatuhan. Pasar saham mereka terjun dan banyak mata uang telah turun tajam. Permintaan domestik di negara-negara emerging market melambat tetapi tidak kolaps. IMF berharap perekonomian negara-negara emerging market, yang dipimpin oleh China, untuk tetap tumbuh sebesar 6,9 persen pada 2008 dan 6,1 persen pada 2009. Hal itu akan menjadi bantal perekonomian dunia meski tidak akan menyelamatkannya dari resesi.

Gambar 1. Indeks Komoditas Tahun 2000-2008*

Sumber: The Economist

Perangsang lain datang dari terjunnya harga komoditas akhir-akhir ini, terutama minyak. Selama tahun pertama krisis keuangan, boom yang terjadi dalam harga komoditas yang telah terjadi selama lima tahun menjadi hal sangat mengejutkan. Dari awal tahun sampai juli, harga minyak naik hampir dua kali lipat. Indeks harga makanan melonjak sebesar 55 persen (lihat Gambar 1). Kenaikan harga yang sangat besar ini mendorong kenaikan indeks harga konsumen di dunia. Rata-rata headline inflation pada bulan Juli telah melebihi 4 persen di negara-negara kaya dan hampir mencapai 9 persen di emerging economies, jauh melebihi target bank sentral (lihat Gambar 2).

Gambar 2. Sinyal-Sinyal Yang Berbahaya: Inflasi di Negara Industri, Emerging Economies, dan Global Tahun 2002-2008*

Sumber: The Economist

Inflasi yang tinggi dan terus menerus melonjak bersamaan dengan lemahnya keuangan menyebabkan bank sentral mengalami kebingungan dan menghadapi trade off yang berbahaya. Mereka dapat mengetatkan kebijakan moneter untuk menghindari dari inflasi yang lebih tinggi dan menjadi berurat akar (sebagaimana yang dilakukan ECB), atau mereka dapat memotong suku bunga untuk membantali lemahnya sisi finansial (sebagaimana yang dilakukan The Fed). Dilema tersebut sekarang berakhir. Hal tersebut terjadi karena turunnya harga komoditas secara tajam, indeks harga konsumen yang sempat mencapai puncaknya yang akan menimbulkan resiko inflasi telah mereda. Bila harga minyak tetap pada level saat ini, indeks harga konsumen Amerika serikat mungkin saja turun dibawah 1 persen pada pertengahan tahun ini. Kemudian pembuat kebijakan akan mulai segera mengkhawatirkan adanya deflasi.

Masalahnya terletak pada besarnya difisit neraca berjalan Amerika serikat yang bergantung pada pembiayaan luar negeri. Amerika Serikat memiliki keuntungan bahwa mata uangnya yakni dolar adalah mata uang cadangan devisa tiap negara, dan sebagaimana kekacauan pasar finansial telah meluas, dolar akan menguat. Tetapi krisis kali ini juga menguji banyak fondasi dimana orang asing loyal terhadap dasar dolar, seperti jangkauan pemerintah yang terbatas dan pasar modal yang stabil. Bila orang asing melarikan dolar, maka amerika serikat akan mengalami dua mimpi buruk yang menghantui negara-negara emerging market dalam kehancuran pasar keuangan: secara simultan terjadi krisis mata uang dan perbankan. Utang amerika serikat, tidak seperti utang-utang negara emerging market, utang Amerika Serikat didenominasikan dalam bentuk mata uangnya sendiri, yaitu dolar. Tetapi kolapsnya dolar akan tetap menjadi sebuah bencana.

Apa yang akan menjadi efek jangka panjang dari kekacauan pasar finansial ini terhadap ekonomi dunia? Memprediksi konsekuensi dari krisis yang belum selesai adalah suatu yang bahaya. Tetapi sudah jelas bahwa, bahkan dalam ketiadaan bencana, arah globalisasi akan berubah. Dua dekade yang lalu pertumbuhan integrasi perekonomian dunia telah bersama-sama dengan semakin berkembangnya pengetahuan dari anglo-saxon kapitalisme pasar bebas, dengan amerika serikat sebagai cheerleadernya. Pembebasan aliran perdagangan dan modal juga deregulasi industri domestik dan keuangan telah menyebabkan pesatnya perkembangan globalisasi. Integrasi global, dalam jumlah besar, telah menyebabkan kemenangan pasar atas pemerintah. Proses ini sekarang berbalik menjadi 3 jalan yang berbeda.

Pertama, keuangan negara-negara barat akan diregulasi. Pada tingkat minimalnya, wilayah yang paling bebas di keuangan modern, seperti 55 triliun US dolar untuk derivasi kredit akan diatur. Peraturan akan modal akan diperiksa secara seksama untuk menurunkan solvabilitas dan meningkatkan daya rentang sistem. Overlaping dari pembuat peraturan akan diatur kembali. Seberapa besar kontrol yang akan dikenakan akan kurang bergantung kepada ideologi daripada parahnya penurunan ekonomi.

Yang kedua, keseimbangan antara negara dan pasar berubah dalam wilayah selain keuangan. Untuk kebanyakan negara, shock yang sangat penting dalam beberapa tahun yang lalu adalah naiknya harga komoditi secara besar-besaran, dimana politisi juga disalahkan karena adanya spekulasi keuangan. Naiknya harga makanan di akhir 2007 dan awal 2008 telah menyebabkan adanya pemberontakan di 30 negara. Untuk meresponsnya, pemerintah di negara-negara emerging market memperluas jangkauannya, menaikan subsidi, memperbaiki harga, melarang expor dari komoditas penting, bahkan pada kasus india, pemerintahnya melarang perdagangan future.

Ketiga, Amerika serikat kehilangan pengaruh ekonomi dan wewenang intelektual. Sebagaimana negara-negera yang perekonomiannya sedang tumbuh pesat membentuk arah dari perdagangan global, sehingga mereka akan meningkatkan bentuk keuangan masa depan. Seperti China yang merupakan negara kaya kapital dan mudah dalam memberi kredit. Deleveraging dalam perekonomian barat akan sedikit tidak terlalu terasa bila savings di negara-negara asia yang kaya dan negara pengekspor minyak menyuntikan dananya.

Rentetan efek domino pun masih berlanjut dengan hancurnya Washington Mutual (WaMu). WaMu ditutup setelah nasabah menarik dana besar-besaran sejak 15 September lalu atau sejak Lehman Brothers mengalami kebangkrutan. Penarikan dana mencapai 16,7 miliar dollar AS. Bahkan, di eropa pun krisis keuangan AS mengimbas ke Amsterdam (Belanda) dan Brussels (Belgia), di mana Fortis NV, jasa keuangan Belanda-Belgia, harus menepis rumor. Bank Sentral Belanda telah memerintahkan bank pesaing Fortis untuk mendukung pendanaan bank tersebut. Fortis, yang juga terjebak pinjaman pada perumahan AS, mengalami penurunan harga saham 21 persen, terendah dalam 14 tahun terakhir.

Jatuhnya WaMu seakan menjadi pembenaran bahwa krisis finansial ini semakin memburuk. Akibatnya, pasar saham di Asia, Eropa, dan AS, anjlok lagi. Belum jelasnya nasib rancangan penyelamatan yang diajukan oleh pemerintahan Bush juga menambah suram pasar finansial di seluruh penjuru dunia. Krisis kepercayaan telah merepotkan lembaga keuangan. Untuk mengatasi kekeringan likuiditas di perbankan, bank-bank sentral di beberapa negara menambah pasokan likuiditas ke sektor perbankan.

Gambar 3. Kerugian Sektor Finansial

Sumber: Bloomberg dan IMF (2008)

Langkah FED

Upaya penyelamatan sebesar USD700 miliar semestinya menenangkan pasar. Ternyata jumlah tersebut menimbulkan keraguan baru, yaitu dari sisi kesehatan keuangan Pemerintah AS. Jumlah utang pemerintah telah melampaui USD10 triliun dan setiap harinya bertambah USD2,6 miliar. Ini berarti bahwa rasio utang Pemerintah AS terhadap produk domestik bruto (PDB) mereka yang mencapai USD14 triliun adalah di atas 70 persen.

Dengan upaya penyelamatan tersebut, batas atas utang pemerintah akan ditetapkan sebesar USD11,3 triliun. Jika batas itu tercapai, maka rasio utang pemerintah terhadap PDB akan mencapai sekitar 80 persen dan akan terus meningkat. Pada masa pemerintahan yang akan datang, siapa pun presidennya, bukan tidak mungkin rasio utang meningkat menjadi 100 persen.

Gagalnya penyuntikan dana oleh FED pada konggres pertama disebabkan karena maraknya Credit Default Swaps (CDS). CDS adalah surat berharga yang memberikan jaminan bayar kepada seorang pemegang obligasi. Nilai pasar CDS berkembang dua kali lipat dalam tiga tahun terakhir. Saat muncul pada tahun 1995 nilai CDS baru US$ 144 miliar namun sekarang telah mencapai US$ 62,2 triliun. Setelah dihapuskannya peraturan mengenai CDS pada tahun 2000, potensi kebangkrutan korporasi AS makin besar muncul diawal tahun 2005. Saat itu kredit macet di sektor perumahan AS mulai bermunculan. Sejak keadaan ini dicium pasar, produk-produk CDS makin marak diperdagangkan. Investor yang bisa membeli CDS tidak lagi terbatas pada investor yang membeli obligasi asli.

Transaksi jual-beli CDS juga dilakukan di bawah meja. CDS menjadi produk idaman spekulan. Misi CDS berubah dari pengamanan obligasi gagal bayar menjadi sebuah instrumen peraup untung di tengah gelombang kebangkrutan korporasi. Siapa pun pemegang CDS pasti untung asalkan terjadi kebangkrutan korporasi penerbit surat utang.

Para pemegang CDS terus menciptakan suasana yang menjatuhkan indeks, yang mempercepat rentetan kebangkrutan perbankan. Menurut Dorsch, inilah yang menjadi alasan utama di balik kejatuhan beruntun indeks saham AS dan global karena peredaran CDS telah meluas ke berbagai negara

Dengan membandingkan masalah yang dihadapi perekonomian Jepang beberapa tahun lalu, bukan tidak mungkin masalah perekonomian di AS akan berkepanjangan. Saat sebelum terjadinya krisis, rasio utang Pemerintah Jepang terhadap PDB mereka mencapai 50 persen. Dalam hitungan 10 tahun, rasio tersebut telah meningkat dua kali lipat menjadi 100 persen di akhir 1999. Rasio terus meningkat sampai saat ini yang menimbulkan beban besar bagi Pemerintah Jepang.

Imbas dari krisis lembaga keuangan AS pertama-tama amat terasa di pasar modal sebagaimana ditunjukkan oleh kemerosotan tajam IHSG. Kemerosotan IHSG ini diikuti pelemahan nilai rupiah yang sudah menembus angka Rp 10.650 seiring penguatan dollar AS karena investor mencari perlindungan, terutama di T bills (surat berharga) Pemerintah AS. Pasar obligasi, baik pemerintah maupun korporasi, juga tertekan menimbulkan kerugian besar pada perbankan dan institusi pemegang obligasi lainnya karena penghitungan yang disesuaikan nilai pasar saat itu (mark-to-market). Selanjutnya perbankan dihadapkan persoalan ketatnya likuiditas, baik dollar AS maupun rupiah, yang mendorong peningkatan suku bunga deposito yang tinggi. Bahkan, beberapa bank memberi bunga deposito hingga 12-13 persen untuk jumlah tertentu. Untuk mengimbangi pertumbuhan kredit yang amat tinggi, di atas 30 persen, bank amat membutuhkan dana dari masyarakat yang pertumbuhannya tidak sepadan dengan pertumbuhan kredit itu.

Dalam menanggapi imbas dari krisis ini, BI melakukan intervensi cukup besar untuk menjaga stabilitas nilai rupiah. Pemerintah juga berusaha meyakinkan pasar keuangan dan pelaku ekonomi umumnya bahwa perekonomian Indonesia tidak terkait langsung dengan krisis di AS meski terkena imbasnya.

Kebijakan BI

Tingginya inflasi ini masih akan berlangsung hingga paruh ke dua tahun 2009. BI menyikapi tingginya inflasi dengan menaikkan suku bunga secara bertahap sebesar 25 basis point per bulan yang kini pada tingkatan 9,5 persen. Dengan perkiraan inflasi pada tahun 2009 sekitar 6,5-7,5 persen tingkat BI Rate ini dianggap memadai.

Upaya untuk mengatasi ketatnya likuiditas di satu sisi dan tingginya inflasi di sisi lain tampaknya saling bertentangan. Untuk melawan inflasi dibutuhkan kebijakan uang ketat, sedangkan untuk mengatasi persoalan ketatnya likuiditas di perbankan dibutuhkan aliran dana ke dalam perekonomian. Tampaknya BI dan pemerintah berupaya melakukan kebijakan bersifat hibrid, yaitu mengurangi tekanan likuiditas dengan berupaya mengendalikan inflasi, paling tidak dalam enam bulan ke depan saat inflasi masih tinggi. Hasilnya tentu tidak optimal, tetapi dalam situasi penuh ketidakpastian, amat sulit menerapkan kebijakan optimal.

Saat ini, perbankan Indonesia sedang dalam proses ekapansi dalam menyalurkan kredit. Kecenderungan ini akan terus berlangsung karena LDR (rasio kredit terhadap deposito) meski mengalami peningkatan besar, tetapi masih ada di bawah 80 persen.

Bandingkan dengan LDR Thailand yang mendekati 100 persen dan Korea Selatan yang telah melampaui 100 persen. Memang aliran kredit perbankan terbatas kredit investasi karena tingginya risiko dan lebih besar pada kredit konsumsi dan modal kerja.

Bagi bank-bank papan atas, mereka tampaknya enggan memanfaatkan fasilitas repo BI, terutama terkait reputasi. Mereka tidak mau mendapatkan kesan kesulitan dana dengan memanfaatkan fasilitas BI. Bank-bank itu cenderung mendapatkan dana dari masyarakat atau pasar uang antarbank meski bunganya tinggi selama mereka dapat menyalurkan kredit dengan marjin tertentu. Kemungkinan pertumbuhan kredit akan melambat sesuai pertumbuhan dana pihak ketiga. Namun, kecenderungan pertumbuhan kredit masih akan tetap tinggi karena perbankan dalam kondisi ekspansif.

Dari sisi kebijakan moneter dan supervisi perbankan selain membuka akses lebih besar pada likuiditas, kepercayaan antarlembaga keuangan khususnya antarbank harus tetap dijaga baik guna mencegah persoalan credit crunch, seperti di AS dan Eropa. Dengan rasio permodalan yang cukup baik dan tidak terkait masalah produk keuangan dari lembaga keuangan yang gagal di AS, seharusnya perbankan di Indonesia masih dapat berfungsi optimal meski menghadapi tekanan permasalahan likuiditas.

Dampak Kepada Sektor Finansial

Krisis Keuangan ini juga berdampak pada aktivitas pasar modal global. Perkembangan indeks bursa saham di beberapa bursa dunia yang sebelumnya menunjukkan kinerja yang outperform terkoreksi turun sampai dengan level yang tidak diperkirakan. Jika dibandingkan dengan awal tahun 2008, Indeks bursa Shanghai telah turun sebesar 64 persen, Kuala Lumpur Composite Index sebesar 34 persen.

Begitu juga dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia per tanggal 16 September 2008 menyentuh level terendah 1.719,254, terkoreksi 39,3 persen dihitung dari level IHSG tertinggi 9 Januari 2008 di level 2.830,260. Kerugian langsung mungkin hanya dialami sebagian kecil investor yang memiliki eksposure atas aset-aset yang terkait langsung dengan lembaga-lembaga keuangan AS yang bermasalah.

Dengan kondisi fundamental Indonesia saat ini, sebenarnya tidak ada alasan bagi investor untuk melakukan rasionalisasi portofolionya. Melemahnya IHSG akibat sentimen global krisis keuangan AS sebenarnya memberikan hikmah positif karena tanpa kita sadari kinerja IHSG selama ini relatif overvalued. Turunnya IHSG ke level saat ini lebih mewakili kondisi fundamental yang sebenarnya (priced-in). Meski level IHSG saat ini belum dipastikan merupakan level equilibrium baru, tetapi dengan kondisi fundamental yang perform akan menahan aksi spekulasi yang mendorong IHSG terkoreksi lebih dalam.

Dengan tingkat likuiditas global saat ini yang relatif masih sangat tinggi, diperkirakan tujuan investasi investor akan ditujukan ke berbagai bursa-bursa emerging market yang dapat memberikan potensi tingkat pengembalian/imbal hasil (expected return) yang menarik bagi investor, tak terkecuali Indonesia. Inilah sebenarnya berkah terselubung krisis keuangan AS untuk pasar modal Indonesia.

Tidak bisa kita mungkiri bahwa investor pasar modal Indonesia saat ini masih didominasi investor asing. Berdasarkan data dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per tanggal 31 Juli 2008 kepemilikan saham investor Asing di Bursa Efek Indonesia sebesar 64 persen, sisanya 36 persen adalah kepemilikan saham oleh investor lokal. Peran investor asing ini di satu sisi membawa dampak positif meningkatkan likuiditas berupa aliran modal masuk (capital inflow), tetapi di sisi yang lain merupakan ancaman instabilitas pasar ketika investor asing ini keluar dan menarik modalnya (capital outflow) secara masif dan tiba-tiba. Sampai saat ini di pasar modal Indonesia belum mengindikasikan adanya capital outflow secara besar-besaran sebagai dampak dari krisis keuangan AS.

Namun demikian, kita harus mewaspadai kemungkinan terjadinya penarikan modal investor asing secara besar-besaran. Ketidakpastian perekonomian global sebagai dampak dari krisis keuangan AS masih dominan dan memberikan peluang terjadinya capital outflow secara besar-besaran di pasar modal Indonesia.

Perekonomian Indonesia

Kini, perekonomian Indonesia dalam kondisi rentan untuk tumbuh lebih tinggi. Ekspansi perekonomian tidak sepadan dengan dukungan yang memadai dari akumulasi dana masyarakat. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi belum optimal, tetapi inflasi sudah tinggi karena tekanan harga, apalagi dengan keadaan eksternal yang cepat memburuk. Dalam jangka pendek, prioritas ada pada pengendalian inflasi dan stabilitas nilai rupiah yang amat penting karena hal ini dapat menurunkan kepercayaan dengan cepat jika tidak ditangani dengan baik. Saat kondisi eksternal tidak pasti, fokus kebijakan di tingkat pemerintahan dan perusahaan adalah pada stabilitas dan kepercayaan di dalam negeri. Prediksi Bank Indonesia mengenai pertumbuhan ekonomi jangka menengah tampaknya akan terhambat akibat krisis finansial global yang terjadi (lihat Gambar 4).

Gambar 4. Proyeksi Pertumbuhan Jangka Menengah Indonesia

Negara negara di dunia saat ini dihadapkan pada pilihan kebijakan ekonomi yang dilematis. Di satu sisi tekanan inflasi meningkat namun disisi lain perekonomian dunia sedang melambat. Di AS sendiri The FED dalam menghadapi resesi dan tekanan global adalah dengan menurunkan tingkat suku bunga sampa 1,5%. Hingga pertengahan juli 2008 banyak negara berupaya untuk menahan kenaikkan inflasi dengan menaikkan suku bunga.

Pola Aliran Foreign Direct Investment (FDI) global mengalami pergeseran dimana peran negara berkembang sebagai penerima aliran masuk FDI semakin meningkat. Pada periode 2001-2007, total aliran FDI ke negara berkembang rata-rata telah mencaai 31.5% sementara di negara maju turun ke tingkat 65% (lihat Gambar 5).

Gambar 5. Perkembangan FDI global (USD Milliar)

Sumber: UNCTAD, the economist (2008)

Meskipun secara umum kinerja perekonomian telah membaik, namun sesungguhnya perekonomian domestik masih dibayangi oeleh sejumlah masalah struktural yang berpotensi menghambat akselerasi pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Perbaikan struktural memang telah dilakukan, namun dalam skala dan kecepatan yang belum memadai untuk mengejar ketinggalan yang ada. Sebagai akibatnya tingkat pertumbuhan capital belum signifikan dan produktivitas tenaga kerja cenderung menurun. Kondisi buruknya struktural ekonomi di Indonesia menjadi salah satu penyebab kurang menariknya Indonesia di mata asing sehingga FDI yang masuk masih sedikit. Meskipun sejak tahun 2002 FDI Indonesia terus meningkat, namun apabila dibandingkan dengan Negara-negara di ASEAN posisi Indonesia relative tertinggal (lihat Gambar 6).

Gambar 6. Perkembangan Rasio FDI di Negara Asean (%)

Sumber: Asian Development Bank (2008)

Perkembangan Indikator Ekonomi Nasional

Dari sisi permintaan pertumbuhan ekonomi pasca krisis lebih di dorong permintaan domestik. Hal ini terlihat dari rata-rata pertumbuhan pasca krisis 2001-2007 yang mencapai 5%, melebihi rata-rata pertumbuhan ekspor netto yang mencapai 4%. Disisi lain, Gap antara permintaan domestik dan ekspor netto pasca krisis jauh lebih kecil dibandingkan dengan sebelum krisis (lihat Gambar 7).

Gambar 7. Pertumbuhan Komponen PDB sebelum dan sesudah Krisis (%)

Sumber: Laporan Bank Indonesia (2008)

Bagaimana dengan Ekspor Indonesia? Dari Indeks Revealed Comparative Advantage (RCA) menunjukkan bahwa prestasi ekspor lebih di dominasi oleh peningkatan komoditas berbasis Alam (lihat Gambar 8). Berdasarkan indeks RCA, karet dan batubara merupakan komoditas yang daya saingnya mengalami peningkatan. Sementara tekstil, elektronik, dan produk kayu mengalami penurunan daya saing. Kurang kuatnya kinerja komoditas berbasis manufaktur ini tidak terlepas dari lemahnya dukungan kegiatan investasi setelah krisis.

Gambar 8. RCA Indeks Beberapa Komoditi Andalan Ekspor (%)

Sumber: Laporan Bank Indonesia (2008)

Dari sisi produksi, kontribusi sektor sektor yang memiliki pangsa besar terhadap pertumbuhan PDB indonesia cenderung terus mengalami penurunan. Pertumbuhan kedua sektor terbesar yaitu pertanian dan industri pengolahan dalam periode 2001-2007 mengalami penurunan. Dengan pangsa yang semakin mengecil serta pertumbuhan yang cenderung stagnan, kontribusi sektor pertanian dan industri pengolahan pada pertumbuhan PDB semakin menurun. Lemahnya kinerja sektor industri pengolahan, khususnya industri pengolahan nonmigas, tidak dapat dilepaskan dari kondisi permintaan domestik yang terus mengalami tekanan. Dengan karakteristik sektor industri dimana orientasi dari industri-industri yang berskala besar lebih tertuju ke pasar domestik, maka lemahnya permintaan masyarakat jelas akan mempengaruhi kinerja sektor industri secara keseluruhan. Kinerja industri pengolahan nonmigas (manufaktur) pascakrisis yang belum sepenuhnya membaik ini juga tercermin dari nilai produksi maupun nilai tambah produksi yang dihasilkan oleh keseluruhan industri, baik industri besar dan sedang, yang secara umum terlihat masih dibawah kondisi prakrisis.

Sebaliknya perkembangan sektor tersier khususnya perdagangan, pengangkutan dan jasa keuangan maupun non keuangan semakin membaik, seperti tercermin dalam kontribusinya terhadap PDB terus meningkat (lihat Gambar 9).

Gambar 9. Pertumbuhan PDB dan Pangsa Sektoral

Sumber: Bank Indonesia (2008)

Dampak Krisis kepada Industri di Indonesia

Semenjak SBY memimpin Indonesia baik Kurs Rupiah maupun IHSG terlihat Stabil (lihat Gambar 10). Namun terjadinya krisis financial global membuat pemerintah dan beberapa departemen di Indonesia mengeluarkan beberapa langkah antisipasi. Kepanikan investor yang membuat jatuhnya indeks saham sampai level 1400 membuat BEI dan pemerintah melakukan suspensi atas aktivitas perdagangan di bursa.

Gambar 10. Kurs dan IHSG selama 2004-2008

Sumber: Diolah dari BI (2008)

Namun tampaknya intervensi yang telah dilakukan pemerintah pun belum berhasil untuk menahan nilai kurs rupiah, bahkan pada 10 oktober 2008 kemarin dolar sempat menembus Rp. 10.650,-. Kebijakan BI untuk menaikkan suku bunga menjadi 9,5% ternyata belum mampu menahan gejolak dan tekanan krisis. Terjadinya krisis ini mau tidak mau sangat berpengaruh terhadap usaha bisnis yang ada di Indonesia yang berhubungan dengan kegiatan investasi seperti pembiayaan, asuransi, bank, properti dan industri yang terkait dengan ekspor.

Untuk bisnis pembiayaan sendiri, keringnya likuiditas di pasar akan sangat menghambat industri multifinance untuk mengembangkan pembiayaannya sehingga pertumbuhan sampai akhir tahun ini diprediksi 10-20%. industri pembiayaan yang mencakup consumer finance, leasing, dan anjak piutang mayoritas mengandalkan sumber dana dari pinjaman bank dan sebagian kecil dari pinjaman langsung lainnya dalam negeri dan asing. Sulitnya mendapatkan funding dari bank dengan sendirinya akan berpengaruh terhadap pertumbuhan kredit baru yang memiliki beban suku bunga pembiayaan lebih tinggi menyesuaikan dengan naiknya biaya dana. Tingginya suku bunga yang ditetapkan BI dikhawatirkan akan menurunkan kualitas pembiayaan, yakni potensi naiknya pembiayaan macet menjadi lebih besar meski kucuran pembiayaan dilakukan dengan sangat hati-hati. Kerena itu para pelaku bisnis di pembiayaan ini harus mencari sumber dana lain. Jika melalui bank local sulit mendapatkan dana, maka segera ekspansi untuk menggaet mitra bank asing yang memiliki likuiditas yang tinggi. Pemerintah harusnya juga menciptakan iklim yang kondusif untuk bisnis pembiayaan ini, misalnya dengan membuka kesempatan kepada multifinance mendapat dana dari industri asuransi atau dana pensiun sehingga tak hanya mengandalkan dana dari bank ataupun obligasi. Di samping itu, perlu juga dibuat aturan mengenai kepemilikan asing dalam lembaga pembiayaan.

Sama halnya dengan industri asuransi, jatuhnya saham domestik ini berpotensi negetif terhadap pemegang polis asuransi unit link. Walaupun untungnya, unit link menempatkan dananya di saham masih sedikit apabila dibandingkan dengan fix income, namun saat ini perusahaan asuransi harus mulai untuk melihat potensi atau peluang investasi di sektor riil. Memang investasi di sektor ini membuat asset kurang liquid, akan tetapi dalam jangka panjang, investasi sektor riil yang dikelola secara hati hati akan menjadi salah satu alternatif pendapatan yang menjanjikan untuk industri asuransi.

Begitu juga dengan industri yang mengekspor barang hasil produksinya. Amerika serikat Serikat adalah negara tujuan ekspor terbesar Indonesia setelah Jepang yang menyerap 12, 5 persen dari total nilai ekspor. Pada Januari-Agustus 2008, AS menyerap 8,5 milliar dollar AS atau 11, 58 persen dari total nilai ekspor nonmigas indonesia yang mencapai 73,54 milliar dolar AS. Penyerapan pasar AS bukan saja penting karena besarnya pangsa pasar negara tersebut. Komposisi produk ekspor indonesia ke AS juga bernilai penting karena ditopang oleh industri manufaktur dan pertanian yang menjadi gantungan hajat hidup rakyat banyak.

Selama ini sekitar 43 persen dari total ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) indonesia diserap AS. Hampir 60% dari total ekspor alas kaki indonesia juga dipesan pemegang merek dari AS. Mereka juga menyerap 37 persen ekspor produk perikanan di Indonesia. Padahal TPT dan alas kaki adalah gambaran dari subsektor yang paling diandalkan untuk menyerap tenaga kerja. Sementara di sektor pertanian, kinerja ekspor lebih banyak ditopang produk ikan dan udang daripada hasil budidaya tanaman pangan.

Menanggapi Berbagai gejolak eksternal tersebut jelas merupakan tantangan bagi Indonesia. Miranda S.Goeltom, saat dikukuhkan sebagai Guru Besar FEUI, mengatakan bahwa indahnya koordinasi kebijakan moneter dan fiskal akan sangat tampak ketika ekonomi Indonesia menghadapi ketidakpastian dan gejolak eksternal, seperti lonjakan harga minyak ataupun nilai tukar. Ia menawarkan model koordinasi “Leader-follower”. Artinya koordinasi harus mengacu kepada urutan (sequence) tindakan kebijakan, di mana salah satu otoritas harus melahirkan kebijakan terlebih dulu berdasarkan tantangan lingkungan eksternal, baru direspon oleh otoritas kebijakan lainnya. Ketika terjadi lonjakan harga minyak, otoritas fiskal perlu mengubah kebijakan pengeluaran pemerintah dengan segera, sedang otoritas moneter perlu menjadi follower dengan melakukan kebijakan moneter yang seharusnya tidak mengganggu stabilitas makroekonomi. Sebaliknya, di tengah gejolak kurs, otoritas moneter perlu menjadi leader dengan membuat berbagai upaya dalam melaklukan intervensi langsung di pasar valas dan obligasi; sedang otoritas fiskal menjadi follower, dengan mempersiapkan Jaring Pengaman dan mengurangi dampak lanjutan dari resiko sistemik di sektor finansial. Hanya saja, sekarang ini dibutuhkan tidak hanya policy mix makro, namun koordinasi kebijakan pada lingkungan metaekonomi. Lingkungan meta ini mencakup antisipasi terhadap natural disruption, sektoral, dan daerah. Mengintegrasikan kebijakan pertanian, industri, dan energi nasional, sehingga tercipta suatu sinergi dalam mengoptimalkan segala potensi yang kita miliki, guna menjamin terwujudnya food and energy security.

Koordinasi lintas sektor dan daerah amat dibutuhkan karena pola perencanaan Indonesia bersifat sektoral dan melibatkan 485 kabupaten/kota serta 33 provinsi. Apalagi akan diadakan pilkada di 15 provinsi dan 85 kabupaten/kota pada tahun ini. Ibarat lagu, lagu yang dimainkan berbagai macam. Ada keroncong, rock, jazz, gamelan, dan dangdut, dengan pemain dan penonton yang berbeda karakter dan perilaku. Inilah pentingnya “sang pemimpin” menjadi dirigen suatu orkestra kebijakan makro, sektoral, dan daerah.

Bagaimana langkah awal untuk mengantisipasi kondisi ini? Pertama, meningkatkan kinerja sektor riil sebagai penunjang fundamental ekonomi. Harus kita akui bahwa kinerja fundamental perekonomian kita beberapa tahun belakangan ini bukanlah disebabkan oleh peningkatan sektor riil, seperti peningkatan daya saing, kenaikan produktivitas, dan investasi sektor riil, tetapi lebih disebabkan pengaruh fluktuasi harga komoditas dan kinerja sektor keuangan. Sementara itu jika kita telaah lebih lanjut, tingkat pengangguran dan kemiskinan di Indonesia semakin meningkat, tidak sejalan dengan pertumbuhan ekonomi (paradox of growth). Ini menandakan fundamental perekonomian kita artifisial dan semu. Fundamental perekonomian yang rapuh menciptakan ekspektasi negatif buat investor karena mencerminkan kondisi ketidakpastian.

Menjelang Pemilu 2009 tentunya meningkatkan eskalasi dan dinamika politik di Indonesia. Stabilnya politik dan keamanan menjadi pertimbangan utama investor dalam melakukan alokasi dan distribusi portofolionya. Apabila stabilitas polkam menjelang pemilu terkendali, lalu hasil pelaksanaan pemilu menghasilkan pemimpin-pemimpin yang dapat diterima oleh pasar, akhirnya meningkatkan kepercayaan dan kredibilitas pasar modal Indonesia.

Ketiga, regulasi yang market friendly. Pihak regulator harus selalu menciptakan kebijakan yang market friendly terhadap pasar, yaitu kebijakan yang dapat mengakomodasi keuntungan investor dengan tidak mengesampingkan kepentingan investor minoritas. Regulasi yang market friendly akan memberikan kenyamanan bagi investor untuk berinvestasi dengan horizon waktu jangka panjang. Investor melakukan investasi dasarnya adalah ekspektasi atas tingkat keuntungan/pengembalian dan tingkat risiko investasi. Dengan struktur perekonomian yang kuat, keamanan berinvestasi dan regulasi yang market friendly akan meningkatkan ekspektasi investor pada pasar modal Indonesia.

Momentum krisis keuangan AS ini merupakan kesempatan untuk mengubah persepsi pasar modal Indonesia sebagai pasar modal dengan karakter high risk high return menjadi karakter pasar modal yang dapat memberikan harapan tingkat keuntungan (expected return) yang optimal dengan tingkat risiko investasi yang minimum sehingga bisa menarik modal masuk.

Sejumlah pakar ekonom mengatakan bahwa di Indonesia krisis hanya terjadi di pasar modal. Krisis yang terjadi di pasar modal dinilai tidak akan mudah bertransmisi ke sektor lain mengingat kontribusi pasar modal dalam sistem keuangan Indonesia amat kecil karena bursa di Indonesia hanya membawa pengaruh 20% dari ekonomi Indonesia. Selain itu krisis pasar modal seperti ini tidak akan kembali mengulang seperti krisis pada tahun 1997 karena depresisasi rupiah padah tahun itu adalah 100% dengan inflasi 20% NPL perbankan 60% dan SBI 50%. Gejolak ekonomi yang terjadi saat ini hanya mendepresiasi rupiah sebesar 5%, inflasi 12,14% NPL perbankan 1% dan SBI 9,5%.

Namun Gejolak ini akan membawa kepada krisis atau tidak, kita harus selalu percaya bahwa krisis adalah peluang untuk memasuki era baru yang lebih baik. Semoga dunia bisa keluar dari krisis ini dengan situasi yang lebih baik. Dan semoga ekonom pemerintah Indonesia sudah pasang kuda-kuda melindungi ekonomi indonesia dari krisis ini. Kalau tidak, siap-siap tabungan kita semua di bank, hasil keringat kita bertahun-tahun, hilang dan menguap dalam krisis. Kita menjadi korban sistem ekonomi yang mengandalkan financial engineering bukan sistem yang berbasis sektor riil dan entrepreneurial.



Sidang APEC di singapura

Obama Hadiri Sidang APEC di Singapura


 Pertemuan para pemimpin Forum Kerja sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) kemarin (Sabtu 14/11) resmi dibuka di Singapura. Seperti dilansir AFP, pertemuan APEC kali ini dihadiri 21 negara penting dunia di antaranya AS, Rusia, Cina, Jepang dan sepuluh anggota ASEAN. Di sela-sela pertemuan tersebut Presiden AS, Barack Obama dijadwalkan melakukan pembicaraan dengan para pemimpin Asia.

Sementara itu, menurut laporan ANTARA, Para pemimpin ekonomi Forum Kerja sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) sepakat untuk mendorong penyelesaian perundingan Putaran Doha pada pertemuan informal (retreat) sesi pertama dari Pertemuan tingkat Pemimpin Ekonomi APEC (AELM). Pertemuan tersebut berlangsung di Istana, Singapura, Sabtu, yang bertema "Connecting the Region" (Menghubungkan Kawasan).

Menurut keterangan resmi dari Chen Hwai Liang, Sekretaris Media Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong, Sabtu malam, pada sesi pertama pertemuan informal itu para pemimpin ekonomi APEC menyepakati dorongan politik untuk menyelesaikan Putaran Doha pada akhir 2010.

Disebutkan bahwa ada keperluan mendesak ketika perundingan menuju tahap akhir, itikad politik kuat penting untuk mengatasi kebuntuan. Dalam upayanya untuk mempertahankan kawasan pasar bebas, para pemimpin APEC juga menekankan kembali komitmen mereka untuk menolak segala bentuk proteksionisme, kata pernyataan tertulis itu.

Dalam pertemuan informal yang berlangsung lebih kurang dua jam itu para pemimpin ekonomi APEC juga membahas sebuah visi jangka panjang dari Kawasan pasar Bebas Asia Pasifik (FTAAP). Ada konsensus di antara para pemimpin bahwa negara-negara APEC harus meningkatkan upayanya untuk mewujudkan visi itu, dengan meletakkan suatu dasar dan mengeksplorasi segala bentuk yang mungkin.

Terkait hal itu, menurut pernyataan itu, sejumlah pemimpin ekonomi menyoroti Perjanjian Kemitraan Ekonomi Strategis Trans-Pasifik (TPP) sebagai salah satu cara yang mungkin digunakan untuk mencapai visi itu. Mereka juga menyambut baik pengumuman Presiden Amerika Serikat Barack Obama bahwa AS akan terlibat dengan TPP. Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong pada kesempatan itu mengatakan bahwa langkah signifikan seperti TPP penting untuk membantu menjaga momentum dalam upaya APEC mewujudkan visi FTAAP.

Selaku pemimpin pertemuan itu, Perdana Menteri Lee Hsien Loong mengungkapkan bahwa sekalipun ada tanda-tanda pemulihan perekonomian pascakrisis namun perekonomian global masih dalam bahaya, dengan adanya pengangguran, lemahnya konsumsi dan tekanan proteksionisme.

Sejumlah pemimpin ekonomi yang lain pada kesempatan itu berbicara mengenai keperluan untuk menjembatani kesenjangan pembangunan antara negara-negara anggota APEC dan memperkuat upaya pembangunan kapasitas.

Beberapa diantaranya juga mengangkat isu perluasan agenda pembahasan APEC pada tantangan baru seperti ketahanan pangan. APEC merupakan forum yang terbentuk dan perkembangannya dipengaruhi antara lain oleh kondisi politik dan ekonomi dunia saat itu yang berubah secara cepat di Uni Soviet dan Eropa Timur.

Selain itu dipengaruhi kekhawatiran gagalnya perundingan Putaran Uruguay yang akan menimbulkan proteksionisme dengan munculnya kelompok regional serta timbulnya kecenderungan saling ketergantungan diantara negara-negara di kawasan Asia Pasifik. Forum yang dibentuk 1989 di Canbera-Australia itu telah melaksanakan langkah besar dalam menggalang kerja sama ekonomi sehingga menjadi suatu forum konsultasi, dialog.

Sebagai lembaga informal yang kerja sama ekonominya berpedoman melalui pendekatan keterbukaan bersama berdasarkan sukarela, melakukan inisiatif secara kolektif dan untuk mendukung keberhasilannya dilakukan konsultasi yang intensif terus menerus di antara 21 ekonomi anggota.

Indonesia mendukung peran penting APEC dalam meningkatkan kerja sama ekonomi di kawasan dan berperan aktif dalam pengembangan arah kerjasama APEC ke depan. Partisipasi Indonesia di APEC dilandaskan pada pentingnya mengantisipasi dan mengambil keuntungan dan mengamankan kepentingan nasional RI dari era perdagangan dan investasi yang semakin bebas di Asia Pasifik.





Sidang Tahunan APEC Dibuka di Singapura


The venue of the APEC summit, in Singapore, 08 Nov 2009
Tempat KTT APEC di Singapura, 08 Nov 2009
Sidang tahunan forum kerjasama Asia-Pasifik atau APEC dibuka hari minggu di Singapura, dihadiri para pejabat 21 negara ekonomi besar untuk mengusahakan perbaikan sistem perdagangan dan pertumbuhan ekonomi.

Para pejabat APEC berbicara tentang penyederhanaan proses dan sistem dokumentasi untuk memperlancar perdagangan antara negara-negara yang berbatasan dengan lautan Pasifik. Juga dibahas usaha menciptakan kawasan perdagangan bebas di Asia-Pasifik.

Kata Michael Tay, direktur eksekutif sekretariat APEC tahun ini, perekonomian banyak negara APEC telah mendapat keuntungan besar dengan adanya globalisasi. Tapi krisis keuangan global juga menunjukkan adanya kesenjangan-kesenjangan besar yang harus diperbaiki, kata Tay.

Konperensi APEC akan diakhiri dengan sidang puncak APEC, yang juga akan dihadiri oleh presiden Amerika Barack Obama. Ini adalah kunjungan Obama yang pertama ke Asia sejak ia menjadi presiden.

Obama juga diperkirakan akan bertemu dengan para pemimpin 10 negara ASEAN, termasuk Birma.